Postingan

What's goin on in Women and Gender Studies at Flinders University?

Hi, it's me, Ovy again. Apa kabar para budak korporat dan pejuang cuan? Haha. Postingan kali ini, saya mau menyalurkan kebutuhan healing karena tidak ingin menyimpan sendiri topik "apa yang dipelajari saat menjadi mahasiswa Women and Gender Studies di Flinders university", dan interogasi berkedok pertanyaan lanjutan seperti, bagaimana rasanya? Berat atau biasa saja kah? Langsung anti laki-laki kah? Sudah lepas jilbab kah? Masih sholat kah? Sudah dapat bule kah? Kulit sudah "putih" kah? wkwkwk. Intermeso seperti di atas adalah intermeso ynag bisa dilihat dari dua sisi. Sisi yang satu, pertanyaan di atas ya tentang basa-basi, sedang sisi yang lainnya memang benar-benar ingin tau. Sepertinya tidak perlu dijabarkan ya pertanyaan mana yang masuk ke sisi pertama maupun sisi kedua. Sebebasnya saja haha. Nah, kembali ke topik tentang apa yang dipelajari selama menjadi mahasiswa Master of Art in Women and Gender Studies (MAWGS) di Flinders university. Pertama, sebelum ba...

May Day: The Day I Was Reminded I'm Not Just a Staff—I'm a Human Exploitation Machine

So, here I am, spending May Day—a day dedicated to workers' rights, rest, and reflection—being reminded that apparently, my role in life is to keep everyone else’s job afloat. How, you ask? Let me explain. It all started with an innocent (and by "innocent," I mean absolutely ludicrous) request from my boss. A Level III bureaucrat, mind you, who thought it was a great idea to force me, a mere staf pelaksana, to handle tasks meant for Level IV workers. Because, you know, why not? We’ve all got spare brainpower to take on responsibilities way above our pay grade without the fancy title or extra payment. For those of you unfamiliar with tunjangan jabatan (official allowances based on rank)—trust me, this boss has them. She gets paid for all sorts of "extras" I can't even dream of. Meanwhile, here I am, living out the unofficial duties of an onboarding boss for over a while now. No title. No recognition. No extra pay. Just the sweet taste of exploitation. Ah, the...

Whats goin on in Adelaide? Part 2

Gambar
Hi, it's me, Ovy again. Saya terakhir menulis blog untuk self indulgence alias healing alias kepuasan pribadi alias curhat setelah seminggu sampai di Australia dan mengalami culture shock yang luar biasa, sudah lebih dari setahun yang lalu. Masih teringat jelas ketika kedinginan di bandara Sydney waktu pertama kali pindah ruang dan waktu, dari suhu panas garis katulistiwa langsung ke musim dingin 11 derajat celcius dan berangin. Meskipun hanya pindah dari terminal international ke terminal domestik, dinginnya Sydney tetap bikin menggigil haha.  Perjalanan waktu itu adalah jarak terlama yang pernah saya tempuh seumur hidup. Menyeberang dari Tidore ke Ternate menggunakan speed boat, lanjut pesawat Ternate - Jakarta kurang lebih 3,5 jam, menginap semalam di Jakarta, lalu penerbangan jam 2 pagi di hari berikutnya untuk bertolak ke Australia.  Tiba di Sydney pagi buta di musim dingin berangin dan hanya punya 3 jam untuk pengecekan paspor, visa, bagasi, dan pindah terminal untuk lan...

WHAT’S GOIN ON ADELAIDE?

Gambar
  Hi, it’s Ovy again. Saya seminggu yang lalu dibawa pesawat ke negara, benua, pulau atau apapun yang dikenal dengan nama Australia. Pertama kali bepergian ke luar negeri, saya dilanda kegugupan yang berujung ke overthinking wkwk. Sebagaimana kawan-kawan saya, sesama penerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS), saya sudah pasti wajib ke Australia untuk menempuh pendidikan di bidang studi dan kampus tujuan. Berkuliah di Flinders University di Adelaide, saya tiba di sini tanggal 9 Juni 2022 dan setelah melewati perjalanan Tidore – Ternate – Jakarta –Sydney – Adelaide yang membagongkan lelahnya, tibalah saya di Bedford Park dengan keadaan mengejutkan lainnya haha. Sungguh mati, minggu pertama di Adelaide adalah minggu culture shock kiapaaaa haha. Pertama, saat sampai saya yang membawa RAT saliva dari Jakarta, tidak tau cara memakainya. Saya mencari tutorial di yutub selama setengah jam dan berakhir dengan mencari bantuan online pada teman di Canberra, Biak hingga Kupang wkw...

Should a New Anti-Sexual Violence (RUU PKS) Bill be legalized in Indonesia?

Gambar
Ovy Hayatuddin (EAP 9M-2020)  *Published and presented for Australia Awards Scholarship Pre-Departure Training in Bali, September 2020 *Warning!! Typo, Grammatical Errors, appropriate language & vocabs The increasing number of sexual violence cases in Indonesia over the past decade has led to a desire to pass a new bill against sexual assault. Created by experts from the National Commission on Violence Against Women (KOMNAS Perempuan) in 2014, the first draft of a new Sexual Eradication bill was initially discussed by the Indonesian House of Representatives (DPR RI) in 2016. In the following year, after discussions between the DPR RI and the Ministry of Woman Empowerment & Child Protection, the draft was added to a list of national priorities. Although a new law was not legalized by DPR RI members (2014-2019), the issue of this law is still being debated up till now. Dasopang (as cited in Sari, 2019) says that there are three key reasons why this draft was rejected in 2...

Reformasi Protestan Dan Akar Kapitalisme (Telaah Kritis Pemikiran Weber & Dampaknya Terhadap Penjajahan Di Ternate)

    Adalah magnum opus dari Max Weber berjudul Etika Protestan dan Spririt Kapitalisme (Die Protestantische Ethik und der Geist des kapitalismus) yang banyak menjelaskan hubungan antara sekte Calvinis dari Protestan dan Kapitalisme. Kendati demikian, karya ini bukan satu-satunya karya Weber yang membahas tentang Protestanisme . Tulisan ini mungkin bagi sebagian orang tak lagi penting, sebab banyak sekali referensi terkait Protestan dan Kapitalisme yang beredar di masyarakat. Bagi saya tulisan ini bukan sekedar mencari hubungan keduanya, melainkan merekonstruksi kembali reformasi Protestan (prinsip dan sebab) serta perkembangan sekte-sekte dalam Protestan dan ajaran-ajarannya yang menumbuhkan semangat kerja keras, yang menjadi akar  Kapitalisme Sedikitnya, saya ingin turut berkontribusi dalam memahami kembali sejarah dunia dan menariknya dalam pemahaman konteks fakta lokal, seperti jejak-jejak penjajahan kaum Portugis dan Belanda yang tak pernah lepas dari semangat tiga G...

SAYA KE AUSTRALIA?? WAAH, HOAX!!

Gambar
  Oleh Nofi Hayatuddin  Kawan-kawan pernah dengar tentang Australia Awards? Belum pernah? Sebagian besar masyarakat Maluku Utara utamanya mahasiswa memang belum akrab dengan Australia Awards, termasuk saya. Pertama kali saya mengetahui tentang Australia Awards (selanjutnya akan disebut AAS) adalah melalui Harian Malut Post, yang pada awal tahun 2018 mempromosikan tentang beasiswa AAS berupa program ELTA. Nah, apa itu ELTA? Apa itu AAS? Apakah penerima beasiswa ini akan mendapatkan kesempatan melanjutkan studi S2 ke Australia? Beberapa topik tersebut akan saya bahas dalam tulisan ini. Australia Awards (AAS) adalah beasiswa internasional bergengsi yang didanai oleh Pemerintah Australia, yang menawarkan kesempatan pada generasi Indonesia untuk melanjutkan studi, penelitian dan pengembangan sumber daya manusia. Program AAS di Indonesia sendiri dimaksudkan untuk melanjutkan program pemberian beasiswa dari Pemerintah Asutralia yang sudah dimulai sejak 60 tahun lalu. Salah satu...